Worldview (wawasan dunia) berfungsi memberikan arah atau kompas dalam hidup. Worldview memberi petunjuk. Worldview semacam map, yang memberikan pengertian tentang apa yang benar dan apa yang salah atau apa yang patut atau apa yang tidak patut dari peristiwa-peristiwa dan gejala-gejala yang membingungkan. Fungsi lain dari worldview adalah membentuk cara menilai peristiwa, isu-isu dan struktur dari peradaban. Dengan kata lain, worldview berfungsi untuk memberikan arah sekaligus struktur dari cara melihat segala sesuatu yang ada.
Wawasan Dunia Kristen (Christian Worldview)
Wawasan dunia Kristen adalah pernyataan mengandung penebusan Allah sebagai anugerah yang membebaskan hati manusia dari berhala dan wawasan-wawasan kehidupan yang salah yang dihasilkan oleh penipuan setan dan kebutuhan karena dosa, dan memungkinkan mereka melalui iman di dalam Yesus Kristus untuk mempunyai pengetahuan mengenai Allah dan kebenaran tentang ciptaanNya dan semua aspek realitas.
Wawasan dunia telah diwarnai (atau dinodai) selama berabad-abad dengan warna relatisme- yaitu, ide bahwa tidak ada kebenaran-kebenaran universal mengenai dunia; bahwa dunia tidak memiliki cirri-ciri intrinsik, dan bahwa hanya ada cara-cara berbeda untuk menafsirkannya’ peneguhan terhadap objektivitas ini yang berakar di dalam Allah adalah penangkal racun. Eksintensi dan natur Allah adalah sumber independen dan standar transsendan bagi segala sesuatu. Bagaimanapun juga, premis dasar Alkitab adalah bahwa Allah yang kekal itu ada. Dan menurut doktrin sentral theology Kristen, Allah eksis sebagai satu substansi ilahi yang ada sebagai tiga pribadi yang setara dan sama-sama kekal – Bapa, Anak, dan Roh Kudus. Sementara model-model misteri dari trinitas ini antara Timur dan Barat, kuno dan modern, sulitlah memperbaiki formulasi klasik dari De Trinitate Santo Auguestinus ini: “Menyangkut pertayaan ini, maka, marilah kita percaya bahwa Bapa, dan Anak, dan Roh Kudus, adalah Allah, Pencipta dan Penguasa seluruh ciptaan; dan bahwa Bapa bukanlah anak, atau Roh Kudus juga bukanlah Bapa, atau Anak, tetapi Trinitas pribadi saling berhubungan satu sama lain, dan sebuah kesatuan dengan esensi yang sama.
Allah adalah keagungan transenden, dan karakter-Nya adalah tiga yang kudus (Yes 6:3), sempurna di dalam keadilan (Ul 32:4), dan sempurna di dalam kasih (1 Yoh 4:8). Dia murni di dalam kemurahan dan kekerasan-Nya yang tertinggi (Rm 11:22). Dia adalah benar-benar yang terbesar dan tidak ada yang lebih besar yang bias dipikirkan. Mengenai karya-karya-Nya, karya-karya-Nya itu tidak cacat di dalam penciptaan (kej 1:31) di dalam penghakiman (Maz 51:6) dan di dalam penebusan (Why 5:9). Providensi Allah adalah komprehensif, kerena Tuhan sudah menegakkan takhta-Nya di sorga; dan kerajaan-Nya berkuasa atas segala sesuatu (Mzm 103:19). Dia mengerjakan segala sesuatu dengan baik (Mrk 7:37).
Karena itu, Allah adalah realitas tertinggi yang natur trinitas-Nya, karakter pribadi-Nya, kesempurnaan moral-Nya, karya-karya-Nya yang ajaib, dan pemerintahan-Nya yang berdaulat memberikan titik acuan objektif bagi semua realitas. Dari perspektif alkitabiah, alam semesta tidak netral, tetapi alam semesta mempunyai makna intrinsik yang berakar di dalam Allah. Allah adalah alas an mengapa sesuatu ada di sini dan bukannya tidak ada sama sekali. Allah adalah juga alasan mengapa hal-hal ada seperti adanya (kecuali yang jahat) dan bukan hal-hal yang lain. Karena realitas berdasar secara theistis, manusia tidak memiliki kebebasan, pembenaran, atau bahkan kesempatan untuk menciptakan dan memberikan makna yang bebas kepada alam semesta. Manusia tidak bebas untuk melakukan hal demikian karena Allah telah melakukannya.







