Mediakom KMT
Selamat Datang di mediakomkmt, Media Terupdate, Terpercaya dan Independen
Berita  

Dipanggil untuk Setia: Teguh Berpegang pada Janji Kristus

KUPANG, mediakomkmt — Di tengah kehidupan yang penuh ketidakpastian, manusia membutuhkan sesuatu yang dapat menjadi pegangan. Bagi umat percaya, pegangan itu adalah janji Allah yang tidak pernah berubah.

Pesan tersebut disampaikan Pdt. W. Mandolang, Koordinator OneVoice27 Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh Indonesia Timur, dalam sebuah penyampaian bertema “Dipanggil untuk Setia.”

“Tuhan memanggil kita dengan berbagai cara. Ada kalanya Allah berbicara melalui keadaan, melalui firman-Nya, bahkan berbicara langsung dalam hati kita,” tutur Pdt. W. Mandolang.

Menurutnya, panggilan Tuhan bukan sekadar sebuah ajakan untuk datang kepada-Nya, tetapi juga panggilan untuk setia kepada janji Yesus Kristus. Teladan iman dan kesetiaan Yesus Kristus menjadi model utama bagi setiap orang percaya.

Ia mengingatkan peserta melalui Ibrani 10:23: “Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, tanpa goyah, karena Ia, yang menjanjikannya, setia.”

Janji yang Tidak Pernah Gagal

Mengawali materinya, Pdt. W. Mandolang mengangkat kisah terkenal tentang Jenderal Douglas MacArthur yang pernah mengatakan, “I shall return” — “Aku akan kembali” — ketika meninggalkan Filipina pada masa Perang Dunia II.
Janji itu kemudian diwujudkan ketika MacArthur kembali ke Filipina pada 20 Oktober 1944.

Kisah tersebut menjadi gambaran bahwa sebuah janji yang sungguh-sungguh dipegang akan membawa seseorang untuk kembali dan menepatinya.

“Kalau manusia bisa berusaha menepati janji, terlebih lagi Allah. Janji-janji Allah itu teguh dan benar,” ungkapnya.
Ia kemudian mengajak peserta melihat empat bentuk kesetiaan yang perlu dibangun dalam kehidupan orang percaya.

Pertama, Percaya bahwa Janji Allah Dapat Dipercaya

Melalui Kejadian 12:1-3 dan Galatia 3:16, peserta diajak memahami bahwa janji Allah tetap benar, bahkan ketika keadaan di depan mata tampak tidak pasti.
Abraham menjadi salah satu contoh bagaimana seseorang berjalan berdasarkan janji Allah, meskipun belum mengetahui seluruh jalan yang akan dilaluinya.
Kesetiaan dimulai ketika seseorang memilih untuk percaya kepada Allah, bukan hanya ketika keadaan berjalan sesuai harapan.

Kedua, Setia Mempercayai Janji Allah

Pdt. W. Mandolang mengutip Amsal 3:5, yang mengajarkan untuk percaya kepada Tuhan dengan segenap hati.
Menurutnya, mempercayai janji Allah membutuhkan iman. Bangsa Israel menjadi contoh bagaimana iman diuji ketika mereka berada di hadapan Laut Teberau dan melihat tentara Mesir mengejar dari belakang.
Melalui Keluaran 14:13-14, Musa mengingatkan bangsa itu untuk berdiri teguh dan melihat pertolongan Tuhan.
Janji keselamatan Allah juga telah dinyatakan sejak Kejadian 3:15, dan terus menjadi pengharapan umat manusia hingga janji Kristus dalam Yohanes 14:1-3 tentang kedatangan-Nya kembali.
Karena itu, Yesaya 41:9-10 menjadi penguatan bahwa umat Tuhan tidak perlu takut, sebab Allah menyertai dan menolong umat-Nya.

Ketiga, Setia Menantikan Janji Allah

Tidak semua janji Allah digenapi secepat yang manusia inginkan.
Karena itu, kesetiaan juga berarti mampu menunggu.
Pdt. W. Mandolang mengingatkan bahwa penantian membutuhkan kesabaran dan iman. Simeon menjadi gambaran seseorang yang menantikan penggenapan janji Allah dengan tekun hingga akhirnya melihat keselamatan yang dijanjikan.
Penantian bukan berarti Allah melupakan umat-Nya. Justru dalam masa menunggu, iman dibentuk dan kesetiaan diuji.

Keempat, Setia Menyatakan Janji Allah kepada Orang Lain

Menerima janji Allah bukanlah akhir dari perjalanan iman.
Setiap orang yang telah menerima pengharapan di dalam Kristus juga dipanggil untuk membagikan pengharapan tersebut kepada orang lain.
Melalui Kisah Para Rasul 2:38-39, peserta diingatkan bahwa janji Allah bukan hanya untuk satu kelompok, tetapi juga bagi mereka yang jauh dan bagi semua orang yang dipanggil oleh Tuhan.
Di sinilah semangat OneVoice27 menemukan maknanya: suara pengharapan tidak berhenti pada diri sendiri, tetapi diteruskan kepada orang lain.
Panggilan itu dilakukan dengan mengikuti metode Kristus—menjangkau, melayani, mengasihi, dan membawa manusia kepada pengharapan di dalam Yesus.

Ketika Janji Menjadi Pegangan

Pada akhirnya, Pdt. W. Mandolang mengajak seluruh peserta untuk tidak mudah goyah ketika menghadapi pergumulan kehidupan.
Ada kalanya doa belum terjawab. Ada kalanya jalan terasa panjang. Ada kalanya keadaan membuat manusia bertanya apakah janji Tuhan masih berlaku.
Namun firman Tuhan mengingatkan:
“Marilah kita teguh berpegang pada pengakuan tentang pengharapan kita, tanpa goyah, karena Ia, yang menjanjikannya, setia.” — Ibrani 10:23
Pesannya sederhana, tetapi dalam: Tuhan tidak pernah meminta kita mengetahui seluruh perjalanan; Tuhan meminta kita tetap setia kepada-Nya.
Janji Allah dapat dipercaya.
Kita dipanggil untuk setia mempercayai-Nya.


Kita dipanggil untuk setia menantikan penggenapan-Nya.
Dan kita dipanggil untuk setia menyatakan janji itu kepada orang lain.
Materi kemudian ditutup dengan doa berkat bagi seluruh peserta, disertai doa khusus untuk pokok-pokok pergumulan dan kebutuhan Daerah Nusa Tenggara.
Di tengah berbagai tantangan kehidupan dan pelayanan, satu pesan kembali ditegaskan:

Jangan goyah. Tetap percaya. Tetap menanti. Tetap bersaksi. Sebab Dia yang berjanji adalah setia.

Dan ketika Tuhan memanggil, kiranya kita dapat menjawab bukan hanya dengan berkata, “Tuhan, aku mendengar,” tetapi juga dengan kehidupan yang berkata:

“Tuhan, aku akan tetap setia.”(*/Red/Dk

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *