Mediakom KMT
Selamat Datang di mediakomkmt, Media Terupdate, Terpercaya dan Independen

Wawasan dunia/worldview dan wawasan dunia Kristen

Istilah ini merupakan kata yang diterjemakan dari bahasa Jerman, yaitu weltangchauung; dan pertama kali digulirkan oleh Immanuel Kant. Menurut Kant, manusia menggunakan akal untuk mencapai pengertian dan makna dunia dan peran manusia di dalamnya. Pengertian “weltanchauung” atau “worldview” kemudian berkembang. Sebagian orang menyebutnya sebagai visi, prinsip-prinsip, sistem nilai, cita-cita atau ideologi. Albert M. wolters, penulis buku Creation Regained. Menurut Wolters, worldview adalah kerangka menyeluruh dari kepercayaan dasar seseorang tentang segala hal. Apa yang dimaksud dengan segala hal di sini adalah hal yang termasuk realitas; dunia, manusia, moralitas, keluarga, politik, ilmu pengetahuan, seni, bisnis, pertanian, perikanan, dan bidang-bidang lain yang merupakan cakupan budaya.

Worldview (wawasan dunia) meliputi kepercayaan-kepercayaan dasar seseorang. Apa yang dimaksud dengan kepercayaan di sini bukanlah agama resmi seperti agama Islam, Kristen, Hindu, atau Budha atau keyakinan lain. Worldview tidak dapat disamakan dengan agama. Seseorang biasa beragama Islam, tetapi worldview-nya tidak berwarna Islam. Tanpa ia sadari, bias saja ia mengadopsi prinsip-prinsip tertentu yang bukan berasal dari agama Islam. Bisa saja seseorang beragama Kristen, tetapi worldview-nya tidak ‘berwarna Kristen’ worldview-nya diwarnai oleh kenyakinan yang berasal dari Liberalisme atau isme-isme lain. Jadi, ada perbedaan antara kepercayaan dasar yang sungguh-sungguh dengan agama yang dianut.

Menurut Wolters, worldview adalah kerangka menyeluruh dari kepercayaan dasar seseorang tentang segala hal. Perlu juga diketahui bahwa worldview (wawasan dunia) tidak sama dengan perasaan atau pendapat. Pendapat membutuhkan argumentasi logis atau tuntutan terhadap pengetahuan tertentu; worldview tidak harus selalu demikian. Worldview tidak harus dijelaskan sekalipun ada juga orang yang mampu memberikan penjelasan akademis. Dapat dikatakan bahwa setiap orang memiliki worldview sekalipun tidak ada argumentasi logis atau ilmiah atas kenyakinannya. Kepercayaan dasar (worldview) tidak juga harus disamakan dengan pengakuan kognitif. Seseorang bias jasa memiliki pengakuan kognitif tertentu, tetapi belum tentu ia sungguh-sungguh menyakininya. Kalaupun ia yakin, belum tentu ia sunggung-sungguh menyakininya. Kalaupun ia yakin, belum tentu ia bela. Sebaliknya, worldview bukan hanya menuntut pernyataan, tetapi juga pembelaa. Worldview menuntut komitmen lebig dari pada pendapat belaka.

Oleh karena worldview (wawasan dunia) merupakan kepercayaan-kepercayaan dasar yang sungguh-sungguh hidup dalam diri seseorang, worldview cenderung membuat pola atau kerangka. Ibarat mata air di gunung yang akhirnya membentuk arus sungai, worldview juga membentuk arus atau pola tindakan. Jadi kebiasaan tradisi atau tindakan-tindakan yang terpola merupakan produk dari worldview. Apakah setiap orang mempunyai worldview? Ya. Anak kecil sekalipun mempunyai worldview sekalipun masih sangat mentah. Semakin banyak informasi, pengalaman atau interaksi dengan lingkungan termasuk interasi dengan hal-hal yang bersifat supranatural, worldview mengambil bentuk yang makin berkembang sekalipun arah perkembangan itu tidak selalu disadari. Ibarat organ-organ tubuh seperti jantung, paru-paru, hati dan organ-organ lain, yang tidak selalu dapat dilihat bagaimana organ-organ ini berkembang dan bekerja; demikian juga worldview. Tidak selalu disadari apa sistem nilai (istilah lain terhadap worldview) yang terparti dalam diri sekalipun keputusan sering di buat.

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *