Dina Kristiani menyatakan bahwa salah satu metode pembelajaran yang digunakan Yesus adalah Metode Ceramah. Tuhan Yesus sering memakai metode ceramah atau metode khotbah, dalam menjelaskan ajaran-Nya kepada para murid-Nya maupun saat mengajar orang banyak. Contoh: khotbah Tuhan Yesus di atas bukit dalam Injil Matius 5-7. Matius 24-25 merupakan khotbah Tuhan Yesus tentang akhir jaman. Tuhan Yesus sebagai Guru Agung justru lebih dahulu menerapkan prinsip-prinsip dalam memakai metode ceramah, sehingga hasilnya sangat memuaskan.[1]
Dilanjutkan dengan Dirk Roy Kolibu yang menyatakan bahwa, tugas mengajar sangat penting dan berharga karena dapat membimbing orang mengenal diri sendiri dan mengenal Tuhan. Alasan apa seorang pendidik Kristen melakukan tugas mengajar? Pertama, Allah adalah pengajar utama dalam kehidupan ini. Alkitab memberikan keterangan perbuatan Allah mengajar dimulai sejak di dalam Taman Eden, di mana Adam dan Hawa sebagai peserta didik-Nya. Kedua, Tuhan Yesus adalah sang Guru Agung, disebutkan guru yang datang dari Allah (lih.Yoh. 3:2 bnd. juga dengan Yoh. 13:13). Dia disebut sebagai Rabi, artinya ”Guru” (lih. Mat. 26:25, 49; Mrk. 9:5; 11:21; Yoh. 1:38,39; 3:2; 4:31; 6:25; 9:2; 11:8). Ini tentu suatu gelar kehormatan, yang menyatakan betapa Ia disegani dan dikagumi oleh orang sebangsa-Nya selaku seorang pengajar yang mahir dalam segala soal ilmu Ketuhanan. Sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat yang biasa mengajar mereka (Mat.7:29). Ketiga, Tuhan Yesus mendelegasikan kepada murid-murid-Nya untuk pergi mengajarkan tentang apa yang telah didengar dan dilihat mereka dari Yesus (Lihat Markus 6:30 bnd. Matius 28:20).[2]
- Kompetensi Pedagogik Yesus dalam Matius 5, 6, dan 7
Menurut Ronald Y. Sinlae, terdapat tiga kompetensi pedagogik yang menonjol dalam Matius 5-7, yaitu sebagai berikut:
Pertama, Kompentesi pedagogik Yesus adalah mengenal karakteristik setiap murid-murid yang sedang mendengarkan pengajaran-Nya di atas bukit. “Karakteristik peserta didik yaitu keseluruhan kelakuan dan kemampuan yang ada pada peserta didik sebagai hasil dari pembawaan dan lingkungan sosialnya sehingga menentukan pola aktivitas dalam meraih cita-citanya”. Dengan demikian, penentuan tujuan belajar itu sebenarnya harus dikaitkan atau disesuaikan dengan keadaan atau karakteristik peserta didik itu sendiri. Salah satu karakteristik murid Yesus yang tidak sesuai dengan pengajaran Yesus adalah sulit untuk mengendalikan amarah. Contohnya Petrus merupakan murid Yesus yang memiliki karakteristik yang tidak sabaran, sulit mengendalikan amarah dan kasar. Sebagaimana Tuhan Yesus memiliki pengenalan akan murid-murid-Nya sehingga pengajaran-Nya dapat diselenggerakan dengan baik serta berdampak luar biasa, maka pengenalan karakteristik murid juga menjadi tuntutan dalam pelaksanaan pengajaran di Sekolah Minggu dan sekolah umum.
Kedua, Kompetensi Pedagogik Yesus adalah mengelola proses pembelajaran. Salah satu tugas penting seorang guru dalam mengajar adalah mengelolah kelas atau proses pembelajaran agar dapat terlaksana dengan baik dan semua komponenkomponen belajar dapat terintegrasi satu dengan yang lainnya selama proses pembelajaran berlangsung. Dalam mengelola proses pembelajaran Tuhan Yesus menggunakan metode pengajarang yang tepat. Yesus dalam mengajar, memakai metode yang bervariasi. Yesus tidak membatasi diri dengan suatu metode dalam pengajaran-Nya. Didalam Matius Pasal 5-7 Tuhan Yesus, pada waktu menyampaikan khotbah di bukit di hadapan murid-murid dan orang banyak sehingga memakai metode ceramah. Metode ceramah digunakan Yesus dengan tujuan untuk menyampaikan pengetahuan kepada pendengar-Nya atau menafsirkan pengetahuan tersebut. Dengan metode ceramah ini, Yesus mengharapkan supaya murid-murid-Nya mengerti ajaran Yesus yang mendalam. Setelah mengerti, tujuan Yesus adalah supaya murid-murid dan orang banyak mengalami perubahan dalam tingkah laku. Dalam metode ceramah, guru lebih aktif berbicara dan murid cenderung pasif hanya diam mendengarkan. Akan tetapi dalam metode ceramah Yesus memulai dengan memakai pendahuluan yang menarik yaitu mengungkapkan kata-kata yang sangat penting. Hal ini membuat pendengar-Nya khususnya murid-murid tertarik untuk lebih tahu kelanjutan dari pengajaran-Nya. Dalam mengajar, Yesus memakai ketrampilan untuk membuka pelajaran, yaitu memakai suatu pendahuluan yang menarik sehingga membuat murid-murid-Nya ingin mengetahui isi pelajaran yang akan disampaikan. Yesus juga dalam pengajaranNya menguasai setiap Materi yang diajarkan. Karena Guru harus mengetahui apa yang diajarkan.” Jika guru sendiri mengetahui jelas inti pelajaran yang akan disampaikan, ia dapat meyakinkan murid dengan wibawanya sehingga murid percaya apa yang dikatakan guru, bahkan merasa tertarik terhadap pelajaran.
Ketiga, Kompetensi Pedagogik Yesus adalah komunikasi secara efektif. Yesus memiliki kemampuan dan keahlian untuk menyampaikan informasi atau pesan kepada murid-murid-Nya. Dalam berkomunikasi, Yesus menggunakan bahasa yang santun, sopan, dan membangun orang lain. Yesus sangat cakap dalam menyampaikan informasi yang berhubungan dalam proses belajar mengajar, sehingga penjelasan, perintah, dan permintaan begitu jelas dan mudah dipahami oleh murid-muridNya. Demikian pula Yesus dalam menangkap respon atau reaksi dari pendengarnya sebagai umpan bagi-Nya untuk memberikan tanggapan. motivasi belajar mempunyai hubungan yang erat dengan komunikasi yang dilakukan guru. Dengan demikian secara kronologi dapat dikatakan bahwa kreativitas komunikasi yang diberikan guru terhadap muridnya akan menjadikan semangat murid dalam belajar yang tinggi sehingga akhirnya akan mempengaruhi hasil belajar yang baik. Yesus selalu berupaya berkomunikasi secara efektif sesuai dengan karakter murid-murid sehingga Yesus mampu membantu mereka membangun karakter yang positif. Soli Deo Gloria.[3]
- Prinsip-prinsip Mengajar Yesus dalam Matius 5, 6, dan 7
Dalam Perjanjian Baru memuat banyak prinsip yang dipakai Tuhan Yesus dalam mendidik murid-murid-Nya. Prinsip- prinsip pengajaran Tuhan Yesus menurut kitab injil Matius 5 – 7, yaitu: (1) Tuhan Yesus mengajar melalui hidup dan perbuatan-Nya (Mat. 4; Mat.4:23-24; Mat.4:25); (2) Tuhan Yesus memakai pengalaman pendengar-pendengar-Nya untuk mengajar mereka. (Mat.13:1-9; Mat.5:15-16); (3) Tuhan Yesus terkadang memandang obyek-obyek yang konkrit yang dilihat. (Mat.12:16-17; Mat.6:25-34); (4) Tuhan Yesus memakai bahan / materi / media yang tepat dan sederhana untuk mengajar. (Mat. 4:4, Mat.5:5), (5) Tuhan Yesus selalu memberikan kepada pendengar-Nya tanggung jawab untuk mengambil keputusan secara pribadi. (Mat.7:24-27).[4]
[1]Dina Kristiani, Jurnal “Implementasi Model Teaching Learning Tuhan Yesus Menurut Injil Matius Terhadap Guru-Guru Pendidikan Agama Kristen Di Kota Surakarta” tahun 2018, hal. 446.
[2]Shanan jurnal pendidikan agama kristen http://ejournal.uki.ac.id/index.php/shan/article/download/1498/1189/ 02112020/12:37, hal. 144
[3]Ronald Y. Sinlae, Jurnal Kompetensi Pedagogik Tuhan Yesus dalam Injil Matius Pasal 5-7 (Yogyakarta: ST. Teologi Kadesi, 2019), hal. 38
[4]Talizaro Tafonao, Prosiding Seminar Nasional “Tata Kelola Perguruan Tinggi Kristen di Indonesia” di STT KADESI Yogyakarta, 18-Januari, 24 Maret dan 6 April 2018, hal. 10-11







