Ajaran Yesus dalam pengajarannya berbicara tentang ucapan bahagia. Kata “Berbahagialah” yang tedapat dalam ucapan-ucapan Yesus ini merupakan sebuah kata khusus. Kata “berbahagialah” berarti “diberkatilah.” “Berkat” merupakan lawan dari “kutuk,” yang mempunyai hubungan erat dengan perjanjian antara Allah dan umatNya. Barang siapa yang taat kepada Taurat Tuhan dan setia kepada perjanjian tersebut, maka ia akan diberkati oleh Allah dan menjadi orang yang berbahagia. Sebaliknya, barang siapa yang tidak taat kepada Taurat Tuhan dan melanggar perjanjian tersebut, maka ia akan menerima kutukan dan hukuman dari Allah dan hidupnya tidak berbahagia. Oleh karena itu, ucapan bahagia tidak berdasarkan pada apa yang kita lakukan; tetapi lebih menekankan pada apa yang akan kita terima, jika kita hidup taat kepada FirmanTuhan dan setia kepadanya, yaitu bahwa Allah akan memberkati hidup kita.[1] William Barclay menyatakan, di dalam bahasa Yunaninya kata tersebut adalah makarios. Makarios adalah kata secara khusus menerangkan tentang para dewa. Jadi di dalam kekristenan terdapatlah kesukacitaan ilahi. Orang-orang Yunani selalu menyebut nama Siprus dengan sebutan Hemakaria, yang berarti pulau Bahagia. Mereka melakukan itu karena mereka percaya bahwa pulau Siprus sangat indah, kaya dan subur, sehingga setiap orang yang hidup di sana tidak perlu pergi jauh untuk menemukan kehidupan yang berharga dan sempurna.[2]
Jadi kata Makarios mengungkapkan kesukacitaan yang mengandung rahasia di dlaam dirinya sendiri: kebahagiaan yang begitu mendalam dan tidak tersentuh. Ucapan “Berbahagialah” di dalam khotbah di bukit itu berbicara tentang kesukacitaan yang datang kepada kita melalui penderitaan kita: kesukacitaan yang tidak bisa disentuh ataupun dihilangkan oleh kesedihan, kehilangan, kesakitan, kedukaan dan kuasa-kuasa yang lain. Sukacita yang diberikan Yesus itu besinar melewati tangisan dan tidak akan dapat diambil atau dibinasakan oleh kuasa apapun di dalam kehidupan maupun kematian. Barclay juga menyatakan bahwa, kebesaran dari ucapan “Berbahagialah” di dalam Khotbah di Bukit adalah, bahwa ucapan-ucapan itu bukan merupakan suatu yang kosong mengenai masa depan yang indah. Ucapan-ucapan itupun bukanlah janji-janji yang muluk-muluk tentang masa depan yang masih menjelang. Tetapi ucapan-ucapan itu merupakan teriakan kemenangan, karena adanya kesukacitaan tetap yang tidak akan pernah bisa diambil atau dibinasakan oleh apapun yang ada di dunia ini.[3] Berbagai klasifikasi telah dicoba, dan semua itu bukanlah daftar yang sembarangan; tetapi seperti kata-kata Chrysostom, “semacam rangkaian emas.” Mungkin, pembagian yang paling sederhana adalah untuk melihat bahwa empat bagian yang pertama menggambarkan hubungan orang Kristen dengan Allah; dan empat bagian yang kedua menggambarkan hubungan dan kewajiban orang Kristen kepada sesama manusia.[4]
Perkataan yang pertama diucapkan Kristus di atas bukit itu adalah kata bahagia. Berbahagialah mereka, kata-Nya, yang merasa dirinya miskin rohani dan yang merasa perlu akan keselamatannya. Injil itu harus dikabarkan kepada orang miskin. Bukannya menyombongkan kerohanian, mereka yang mengaku dirinya kaya dan yang tidak memerlukan pertolongan, melainkan hanya bagi mereka yang rendah hati dan yang menyesal. Satu-satunya pancaran air yang dibuka bagi dosa yakni sebuah pancaran air bagi yang miskin rohani.[5] Orang yang miskin di hadapan Allah adalah orang yang berbahagia (ay. 3). Ada kemiskinan rohani yang begitu menghalangi orang menerima berkat atau kebahagiaan, sehingga merupakan dosa dan jerat, seperti kekecutan hati dan ketakutan mendasar, serta kesediaan untuk menyerah pada hawa nafsu. Namun kemiskinan jiwa yang disebut di sini adalah suatu keadaan jiwa yang mulia, dimana kita dikosongkan agar dapat diisi oleh Yesus Kristus. Menjadi miskin di hadapan Allah berarti merasa puas ditengah kemiskinan, bersedia dikosongkan dari kekayaan duniawi jika hal itu menjadi kehendak Allah bagi kita, menilik keadaan kita saat kita sedang dalam kondisi yang kurang, bersikap rendah hati di mata kita sendiri, menanggalkan seluruh rasa keyakinan diri terhadap kebenaran dan kekuatan kita sendiri.[6]
“Berbahagialah orang yang berdukacita, karena mereka akan dihibur.” Dengan perkataan ini Kristus bukannya mengajarkan bahwa berdukacita itu mempunyai kuasa untuk membuangkan kesalahan dosa. la tidak menyetujui kerendahan hati yang pura-pura atau sekehendak hati. Dukacita yang dikatakan-Nya itu bukanlah hati yang disi kemurungan dan ratap tangis. Sementara kita menyesal akan dosa, kita akan bersuka atas kesempatan menjadi anak-anak Allah.[7]
Ada tiga jenis dukacita yang ditunjuk oleh Alkitab. Yang pertama adalah dukacita alami karena kehilangan sesuatu yang berharga atau disayangi, tidak berpengharapan, kesulitan dalam hal keuangan, dll. Yang kedua adalah dukacita dari orang berdosa yang merasa putus asa dan mempunyai dukacita yang sangat mendalam; ia menolak untuk dihiburkan dan merasakan penyesalan yang amat mendalam, sehingga seolah-olah ia tidak mempunyai harapan lagi, seperti halnya Yudas. Yang ketiga adalah dukacita ilahi, di mana ―pengarangnya‖ adalah Roh Kudus. Oleh karena itu, berdukacita adalah suatu perasaan yang timbul karena seseorang kehilangan sesuatu yang disayanginya atau yang dianggap berharga baginya; dan tidak menunjuk kepada kemurungan atau jiwa yang tertekan.
Dari konteks, kita dapat melihat dengan jelas bahwa orangorang yang mendapatkan janji di sini bukan mereka yang berduka karena kehilangan orang yang mereka kasihi; tetapi mereka yang berduka karena kehilangan ketidakberdosaan dan kebenaran mereka. Dalam hal ini Kristus tidak menunjuk pada dukacita karena kehilangan, tetapi dukacita karena penyesalan. Pendukapenduka yang demikian akan dihibur dan mendapatkan kelepasan dari keadaan yang sulit, yaitu mereka mendapatkan pengampunan yang cuma-cuma dari Allah. Penghiburan yang terbesar adalah pengampunan yang diucapkan bagi setiap orang berdosa yang mempunyai penyesalan yang mendalam atas dosa-dosa mereka. Menurut nabi-nabi Perjanjian Lama, “Penghibur” adalah salah satu dari jabatan Mesias. Dia adalah “Penghibur” yang akan membalut mereka yang bersedih/patah hati.[8]
[1]Sinclair B. Ferguson, Khotbah di Bukit, (Surabaya: Penerbit Momentum, 1999), hal. 14-15.
[2]William Barclay, Pemahaman ALKITAB setiap hari, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017) hal. 147
[3]Ibid, 149.
[4]John R.W. Stott, The message of the Sermon on the Mount, (Leicester, England: Inter-Varsity Press, 1978), Hal. 38
[5]E.G. White, Kerinduan Segala Zaman (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999), hal. 319
[6]Matthew Henry, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 1-14 (Surabaya: Momentum, 2007), hal.156-158
[7]E.G. White, Kerinduan Segala Zaman (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999), hal. 320
[8]John R.W. Stott, The message of the Sermon on the Mount, (Leicester, England: Inter-Varsity Press, 1978), hal. 40-42










