Mediakom KMT
Selamat Datang di mediakomkmt, Media Terupdate, Terpercaya dan Independen

Ucapan Bahagia: Jalan Menuju Kebahagiaan Sejati

“Berbahagialah orang yang suci hatinya.” Ini adalah ucapan bahagia paling menyeluruh, yang meliputi semua hal. Di sini kekudusan dan kebahagiaan dijelaskan dan dipersatukan dengan sangat sempurna. Ucapan bahagia ini menggambarkan watak yang paling menyeluruh dari orang yang berbahagia, yaitu mereka suci hatinya. Dalam ucapan bahagia ini juga terkandung penghiburan paling menyeluruh bagi orang yang berbahagia, Mereka akan melihat Allah.[1]

Jadi ucapan “Berbahagialah” di ayat ini dapat diterjemahkan demikian: “O, berbahagialah orang yang motivasi-motivasi hidupnya benar-benar murni dan bersih, karena orang yang demikian kelak akan melihat Allah”[2]

“Berbahagialah orang yang membawa damai.” Hikmat yang datang dari atas adalah pertama-tama murni, selanjutnya pendamai. Orang-orang yang murni dihadapan Allah, dan berdamai dengan sesama manusia, sebab berkenan dengan kedua hal tersebut, hati nurani haruslah tetap murni (Kis 24:16). Orang-orang yang membawa damai adalah mereka yang memiliki watak cinta damai, dan tutur kata yang penuh damai. [3] Tindakan cinta damai itu akan menjadi bukti bagi mereka sendiri bahwa mereka memang anak-anak Allah. Allah akan mengakui mereka sebagai anak-anak-Nya, dan dengan demikian mereka akan menjadi serupa dengan-Nya. Dia adalah Allah sumber perdamaian. Anak Allah adalah Raja Damai. Roh yang mengangkat manusia sebagai anak adalah Roh damai sejahtera. Karena Allah telah meyatakan bahwa diri-Nya dapat diperdamaikan dengan kita semua, Ia tidak akan mengakui hal tersebut kepada orang-orang yang bersikeras untuk saling memusuhi. Sebab, bila para pendamai mendapat berkat-Nya, celakalah mereka yang merusak perdamaian! Dari hal ini tampaklah bahwa Kristus tidak pernah bermaksud agar ajaran-Nya deisebarkan dengan menggunakan api dan pedang, atau hukuman keras, atau dengan pengakuan yang fanatik, atau dengan semangat berlebihan sebagai ciri khas murid-murid-Nya. Orang-orang duniawi sangat senang memancing di air keruh, tetapi anak-anak Allah adalah pembawa damai, orang-orang yang rukun di negeri.[4]

Setelah menerangkan apakah kebahagiaan yang sebenarnya dan bagaimana cara memperolehnya, Yesus lebih jelas menyatakan tugas murid-murid-Nya, sebagai guru-guru yang dipilih oleh Allah untuk memimpin orang-orang kepada jalan kebenaran dan hidup kekal la tahu bahwa mereka sering mengalami kekecewaan dan putus asa, bahwa mereka akan mendapat perlawanan yang hebat, bahwa mereka akan dihinakan, dan kesaksian mereka ditolak. la mengetahui dengan jelas bahwa di dalam menjalankan pekabaran mereka, orang-orang yang rendah hati yang mendengarkan dengan teliti akan perkataan-Nya akan menanggung fitnah, aniaya, penjara dan kematian, dan kemudian dilanjutkan-Nya:

“Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya Kerajaan Surga. Berbahagialah kamu, jika karena Aku kamu dicela dan dianiaya dan kepadamu difitnahkan segala yang jahat. Bersukacita dan bergembiralah, karena upahmu besar di surga sebab demikian juga telah dianiaya nabi-nabi yang sebelum kamu.”

Dunia mengasihi dosa, dan membenci kebenaran, dan inilah yang menyebabkan permusuhan kepada Yesus. Semua yang menolak kasih-Nya yang tiada taranya itu akan merasa bahwa Kekristenan itu merupakan unsur yang menyulitkan. Terang dari Kristus menjauhkan kegelapan yang menudungi dosa-dosa mereka, dan perlunya pembaruan dinyatakan. Sementara orang-orang yang berserah kepada pengaruh Roh Kudus memulai peperangan di dalam diri mercka sendiri, barangsiapa yang berpaut kepada dosa berperang melawan kebenaran dan utusan-utusannya.[5]

Serangkaian ucapan berbahagia yang menjadi khotbah Yesus di bukit diwartakan sebagai sebuah kesaksian bagi pembebasan dan kelepasan setiap mereka yang merasa tertawan dan yang menduka hari, serta yang sering mengalami diskriminasi. Seruan yang demikian hendak menyadarkan semua pihak untuk terlibat secara aktif dalam karya penyelamatan Allah melalui perintah-perintah yang harus mereka lakukan. Tentunya, setiap perilaku didasarkan atas kehendak Allah melalui pengajaran-pengajaran yang berasal dari Allah pula. Tawaran kebahagiaan diberikan secara cuma-cuma dan menjadi kewajiban setiap mereka yang menerima kebahagiaan itu untuk membagikan (atau menularkan) kebahagiaan tersebut secara berkelindan. Jadi ketika kebahagiaan itu disebar-luaskan maka sudah lebih dahulu setiap pribadi merefleksikan keberadaan diri mereka dengan mengetahui “siapa mereka dan apa yang dilakukan?” sebagai anak-anak Allah. Kebahagiaan yang ditawarkan Yesus bagi mereka adalah kebahagiaan yang tidak dipengaruhi oleh berbagai kondisi/keadaan. Maksudnya ialah bahwa kebagiaan tersebut adalah kebahagiaan yang mendalam dan yang tidak dapat dibinasakan oleh siapapun. Oleh karena itu, ucapan berbahagia terkandung makna yang mendalam.

[1]Matthew Henry, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 1-14 (Surabaya: Momentum, 2007),  hal.  166-167

[2]William Barclay, Pemahaman ALKITAB setiap hari, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017), hal. 176

[3]Matthew Henry, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 1-14 (Surabaya: Momentum, 2007),  hal.  168

[4]Ibid, 169

[5]E.G. White, Kerinduan Segala Zaman (Bandung: Indonesia Publishing House, 1999), hal. 324

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *