Tidak banyak keterangan tentang gaya mengajar Yesus yang menunjukkan pada otoritas-Nya sebagaimana yang diceritakan dalam Matius 5-7. Walaupun demikian, kita bisa melihat beberapa hal, sebagai-berikut: Pertama, Yesus duduk dan mulai mengajar. Matius 5:1-2 mencatat: “Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit itu dan setelah Ia duduk datanglah murid-murid-Nya kepada-Nya. Maka Yesus pun mulai berbicara dan mengajar mereka”.
Untuk lebih memahami Matius 5:1-2, Penulis ingin kita melihat konteks umum dari Injil Matius. Matius selalu berbicara tentang kerajaan Allah. Sinclair B. Ferguson menulis, “ Matius telah memperkenalkan tema tersebut ketika ia membuat catatan tentang pelayanan Tuhan Yesus: ‘Yesus pun berkeliling di seluruh Galilea; Ia mengajar dalam rumah-rumah ibadat dan memberitakan Injil Kerajaan Allah’ (Matius 4:32. Dia berkata, ‘Bertobatlah, sebab Kerajaan Sorga sudah dekat!’ (Matius 4:17). [1]Singkatnya, berita dari Khotbah di Bukit adalah ‘Inilah arti bertobat dan hidup berkenan kepada Allah’. Khotbah ini memberikan gambaran tentang cara hidup orang yang menjadi milik Kerajaan Sorga”. Jika tema umum Injil Matius adalah tentang Kerajaan Sorga, maka Yesus saat mengajar memberi kesan bahwa Dia adalah Raja dari kerajaan itu. Gaya mengajar-Nya sambil duduk di atas bukit memberi kesan bahwa sang Raja duduk pada tahta-Nya dan memberikan pengajaran-Nya dan pengajaran-Nya firman-Nya yang bersifat otoritatif dan tidak bisa dibantah! Hal ini juga yang membuat Yesus tampil berbeda dari ahli-ahli Taurat saat mengajar.Ia mengajar dengan otoritas-Nya sendiri. Itu sebabnya Matius 7:28-29 mencatat: “Dan setelah Yesus mengakiri perkataan ini, takjublah orang banyak itu mendengar pengajaran-Nya. Sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat mereka”.
Allah memberikan Sepuluh Hukum kepada umat Perjanjian Lama di atas gunung Sinai. Kini Yesus Kristus mengulang hal yang serupa. Ia naik ke atas bukit. Ia duduk sebagai guru yang berkuasa dan memberikan hukum-hukum kerajaan Allah tersebut.
Berdasarkan keterangan di atas maka dapat dikatakan bahwa otoritas mengajar Yesus dalam mengajar juga bercirikan kristosentris.
[1]Sinclair B. Ferguson, Khotbah Di Bukit – Cermin Kehidupan Sorgawi Di tengah Dunia Berdosa (Surabaya: Momentum, 2017), hal. 2










