Jakarta||mediakomkmt– Suasana penuh semangat rohani mewarnai pembukaan Advisory Penatalayanan Tiga Uni Indonesia, yang dihadiri oleh para Direktur Penatalayanan dari Uni Indonesia Kawasan Tengah (UIKT), Uni Indonesia Kawasan Barat (UIKB), dan Uni Konferens Indonesia Kawasan Timur (UKIKT), bersama para pemimpin Penatalayanan dunia dan wilayah, yakni Pastor Marcos Bomfim dari General Conference (GC), Pastor Aniel Barbe dari General Conference (GC), serta Pastor Francis Amer dari Southern Asia-Pacific Division (SSD).
Acara diawali dengan lagu pembukaan “LB 305”, dilanjutkan doa pembukaan yang dipimpin oleh Pdt. A. T. Manik, Direktur Penatalayanan Sumatera Tengah. Suasana ibadah semakin khidmat melalui persembahan lagu spesial dari GMAHK Uni Indonesia Kawasan Barat.
Dalam sambutan selamat datang, Pdt. B. Sagala, Ketua Uni Indonesia Kawasan Barat, menyampaikan apresiasi atas kehadiran seluruh peserta dan tamu undangan. Ia mengajak seluruh pemimpin Penatalayanan untuk memanfaatkan pertemuan ini sebagai momentum memperkuat komitmen dalam membangun jemaat yang setia kepada Tuhan.
Mengangkat tema “Membangun Umat yang Setia, bertempat di Alicia Mansion, Minggu (2-5/08/2026) ” Pdt. B. Sagala menyampaikan renungan berdasarkan Maleakhi 3:8–11. Ia menegaskan bahwa penatalayanan sejati bukan sekadar berbicara mengenai persepuluhan dan persembahan, melainkan tentang membangun hubungan yang benar antara manusia dengan Allah.
“Penatalayanan adalah wujud iman kepada Allah. Tugas utama kita bukan sekadar mengajarkan tentang uang, tetapi menuntun umat memiliki hubungan yang setia dengan Tuhan,” tegasnya.
Menurutnya, banyak orang langsung mengaitkan penatalayanan dengan persoalan keuangan. Padahal, inti penatalayanan adalah membentuk murid Kristus yang hidup dalam kesetiaan kepada Sang Pencipta. Bahkan, ia menyebut bahwa salah satu khotbah penatalayanan terbaik terdapat dalam Kejadian pasal 1 dan 2, ketika Allah memperkenalkan manusia sebagai pengelola ciptaan-Nya.
Menjelaskan latar belakang kitab Maleakhi, Pdt. Sagala menguraikan bahwa kemerosotan rohani bangsa Israel terjadi karena tiga hal penting. Pertama, mereka kehilangan rasa hormat kepada Allah dengan mempersembahkan korban yang cacat. Kedua, para pemimpin lalai mengajarkan kesetiaan kepada umat. Ketiga, hubungan mereka dengan Tuhan menjadi rusak.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, ia mengangkat beberapa tokoh Alkitab sebagai teladan penatalayanan yang lahir dari hati yang mengasihi Allah.
Abraham, dalam Kejadian 14:18–20, memberikan persepuluhan kepada Melkisedek sebagai pengakuan bahwa segala sesuatu berasal dari Tuhan. Dari kisah itu ditegaskan bahwa sistem persepuluhan dan persembahan bukanlah gagasan manusia, melainkan berasal dari Allah sendiri.
Kisah janda di Sarfat dalam 1 Raja-raja 17 juga menjadi contoh iman yang tetap taat di tengah keterbatasan. Dengan sisa tepung dan sedikit minyak yang dimilikinya, ia memilih percaya kepada janji Tuhan, dan Allah memelihara hidupnya secara ajaib.
Selanjutnya, Pdt. Sagala mengingatkan teladan janda miskin dalam Markus 12:41–44. Walaupun hanya memberikan dua peser yang nilainya sangat kecil, Yesus memuji persembahannya karena Allah tidak melihat besarnya jumlah, melainkan ketulusan hati.
Ia kemudian mengingatkan para direktur agar tidak hanya berfokus pada laporan jumlah dana yang terkumpul.
“Jangan hanya bertanya berapa miliar rupiah yang berhasil dihimpun, tetapi bertanyalah berapa banyak anggota yang bertumbuh dalam kesetiaan kepada Tuhan,” pesannya.
Sebagai penutup, Pdt. Sagala menegaskan bahwa penatalayanan adalah pemuridan. Ia mencontohkan perubahan hidup Zakheus dalam Lukas 19. Setelah mengalami perjumpaan dengan Yesus, Zakheus dengan sukarela berkata bahwa ia akan memberikan miliknya kepada orang lain. Yesus tidak pernah memaksanya memberi, tetapi kasih karunia Allah mengubah hatinya sehingga lahirlah kesediaan untuk memberi.
Menurutnya, inilah esensi penatalayanan yang sesungguhnya: hati yang telah diubahkan akan dengan sukacita menyerahkan hidup dan segala miliknya bagi Tuhan.
Mengakhiri renungannya, Pdt. B. Sagala mengingatkan bahwa janji Allah dalam Maleakhi bukan hanya mengenai berkat yang dicurahkan, tetapi juga perlindungan dan pemeliharaan-Nya atas umat yang setia.
Ia menutup dengan penegasan yang menjadi panggilan bagi seluruh Direktur Penatalayanan:
“Tugas utama Departemen Penatalayanan bukan mengajarkan umat tentang uang, tetapi menuntun mereka untuk hidup setia kepada Tuhan. Ketika kesetiaan dibangun, Allah sendiri yang akan memelihara umat-Nya.”(*Dk













