TANGERANG | mediakomkmt – Gelora iman, semangat persaudaraan, dan kerinduan untuk memperbarui komitmen pelayanan memenuhi Basilea Convention Center, Serpong, Tangerang, saat sekitar 3.200 pendeta dan pemimpin gereja dari 11 negara berkumpul dalam Ministerial Convention Southern Asia-Pacific Division (SSD) 2026, yang berlangsung pada 28 Juli–1 Agustus 2026.
Pertemuan kependetaan terbesar di kawasan Asia Pasifik Selatan ini menjadi momentum bersejarah yang mempertemukan para gembala Tuhan dari Indonesia, Malaysia, Filipina, Kamboja, Laos, Myanmar, Timor-Leste, Thailand, Singapura, Vietnam, dan Brunei Darussalam. Mereka datang membawa satu kerinduan yang sama: diperlengkapi untuk melayani dengan hati yang semakin serupa Kristus dan mempercepat penyelesaian misi Injil.
Acara secara resmi dibuka oleh Pastor Roger Caderma, Ketua Southern Asia-Pacific Division. Dalam sambutannya, ia mengajak seluruh peserta untuk terus memperbarui panggilan pelayanan, menjaga persatuan gereja, dan tetap setia mengemban Amanat Agung di tengah dunia yang terus berubah.
“Pelayanan bukan sekadar menjalankan tugas, tetapi merupakan panggilan untuk membangun umat Tuhan dengan kasih, kesetiaan, dan pengharapan di dalam Kristus.”
Building Up His People: Membangun Umat Tuhan
Mengusung tema “Building Up His People”, konvensi ini menegaskan bahwa kekuatan gereja tidak hanya terletak pada sistem organisasi atau program pelayanan, tetapi pada para gembala yang hidup dekat dengan Kristus dan membimbing umat kepada keselamatan.
Selama empat hari, para peserta mengikuti rangkaian ibadah, seminar, pelatihan, dan diskusi yang dirancang untuk memperkuat kepemimpinan pastoral, memperdalam kehidupan rohani, serta memperlengkapi para pelayan Injil menghadapi tantangan pelayanan masa kini.
Setiap sesi menjadi ruang pembelajaran sekaligus pembaruan rohani, mengingatkan kembali bahwa keberhasilan pelayanan selalu dimulai dari hubungan yang intim dengan Tuhan.
Para Pemimpin General Conference Menguatkan Para Gembala
Konvensi ini menghadirkan sejumlah pembicara dari General Conference yang menyampaikan berbagai materi strategis mengenai kepemimpinan, penatalayanan, kesehatan, dan penyelesaian misi.
Pastor Ramon J. Canals, dari Ministerial Association General Conference, mengajak para pendeta untuk kembali kepada prioritas utama pelayanan: hidup dekat dengan Kristus, menggembalakan jemaat dengan kasih, dan menjadikan misi Allah sebagai pusat setiap keputusan pelayanan.
Pastor Marcos Bomfim, Direktur Penatalayanan General Conference, menegaskan bahwa penatalayanan bukan hanya berkaitan dengan persembahan atau keuangan. Menurutnya, setiap orang percaya dipanggil mempersembahkan waktu, talenta, pengaruh, relasi, dan seluruh kehidupannya bagi kemuliaan Tuhan.
Melengkapi pemahaman tersebut, Pastor Aniel Barbe, Wakil Direktur Penatalayanan General Conference, menekankan pentingnya pendidikan penatalayanan yang berkesinambungan di gereja lokal agar lahir budaya kesetiaan dan kemitraan dalam misi.
Sementara itu, Dr. Zeno Marcel, Direktur Kesehatan General Conference, mengingatkan bahwa pelayanan kesehatan merupakan pintu masuk yang efektif untuk menghadirkan kasih Kristus kepada masyarakat sekaligus membuka jalan bagi pemberitaan Injil.
Dalam sesi mengenai kepemimpinan pastoral, Pastor Anthony Kent, Associate Ministerial Director General Conference, menegaskan bahwa karakter seorang pendeta merupakan fondasi pelayanan yang sesungguhnya. Kerendahan hati, belas kasih, integritas, dan kehidupan rohani yang sehat akan selalu berbicara lebih kuat daripada kemampuan berkhotbah semata.
Senada dengan itu, Pastor Hector Reyes, Direktur PGTS General Conference, mengingatkan bahwa kehidupan seorang pendeta adalah “khotbah yang hidup”. Integritas pribadi, kehidupan keluarga, dan kesetiaan sehari-hari menjadi kesaksian yang paling nyata di mata jemaat.

Pada sesi mengenai gerakan misi global, Pastor Alex Ott memperkenalkan kembali inisiatif OneVoice27: Mission for All, yang mengajak seluruh gereja di dunia untuk bersatu menggerakkan setiap anggota dalam pemberitaan Injil melalui pelayanan pribadi, gereja lokal, media digital, dan keterlibatan aktif di tengah masyarakat Puncak ibadah Sabat disampaikan oleh Paul Douglas, Bendahara General Conference. Dalam khotbahnya, ia menguatkan para pelayan Tuhan agar tetap mengandalkan pemeliharaan Allah, melayani dengan integritas, serta memandang seluruh kehidupan sebagai bagian dari Amanat Agung untuk mempersiapkan dunia menyambut kedatangan Kristus yang kedua kali.
- Kuliah Kebangsaan: Pancasila sebagai Perekat Persatuan
Selain pembicara internasional, konvensi ini juga menghadirkan Gugun Gumilar dari Kementerian Agama Republik Indonesia.

Dalam kuliah terbukanya, ia menjelaskan bahwa keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa merupakan anugerah yang harus dirawat bersama. Pancasila, katanya, menjadi fondasi yang mempersatukan seluruh rakyat Indonesia dalam semangat toleransi, saling menghormati, dan hidup berdampingan secara damai.
Pemaparan tersebut mendapat apresiasi dari para peserta mancanegara yang melihat Indonesia sebagai contoh bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan ketika dibangun di atas komitmen persatuan.
Dipanggil Kembali untuk Melayani
Lebih dari sekadar forum pembelajaran, Ministerial Convention SSD 2026 menjadi tempat di mana ribuan pelayan Tuhan saling menguatkan, berbagi pengalaman, dan mempererat persaudaraan lintas bangsa.
Di balik setiap seminar, doa, dan persekutuan, tersimpan satu kerinduan yang sama: agar setiap pendeta kembali ke ladang pelayanannya dengan hati yang diperbarui, visi yang semakin jelas, serta komitmen yang semakin teguh untuk menggembalakan umat Tuhan.
Ketika konvensi berakhir, para peserta tidak hanya membawa catatan seminar atau materi pelatihan. Mereka pulang membawa semangat baru, keyakinan yang diteguhkan, dan panggilan yang diperbarui untuk terus membangun umat Tuhan melalui kasih, keteladanan, pelayanan yang setia, serta pemberitaan Injil hingga hari kedatangan Yesus Kristus yang mulia.
“Building Up His People” bukan sekadar tema sebuah konvensi, melainkan panggilan suci bagi setiap gembala untuk terus membangun gereja Tuhan, sehingga dunia melihat kasih Kristus melalui kehidupan para pelayan-Nya.(*Dk












