Mediakom KMT
Selamat Datang di mediakomkmt, Media Terupdate, Terpercaya dan Independen
Berita  

WABUP THOBIAS ULY BUKA KONVENSI GURU ADVENT SE-NTT KE-V: MENEGUHKAN PENDIDIKAN BERKARAKTER, BERIMAN, DAN BERORIENTASI KEKekalan

SABU RAIJUA||mediakomkmt.com-WABUP THOBIAS ULY BUKA KONVENSI GURU ADVENT SE-NTT KE-V: MENEGUHKAN PENDIDIKAN BERKARAKTER, BERIMAN, DAN BERORIENTASI KEKekalan, Kamis (08/010/2026), di Desa Menia, Kecamatan Sabu Barat, Kabupaten Sabu Raijua, Nusa Tenggara Timur.

Mengusung tema “Satu Misi, Satu Hati, Satu Tujuan: Pendidikan Advent untuk Kekekalan,” kegiatan yang berlangsung pada 8–10 Oktober 2026 ini menjadi momentum penting bagi para pendidik Advent untuk memperbarui komitmen, memperkuat kompetensi, serta meneguhkan panggilan mulia sebagai pembentuk karakter dan iman generasi penerus bangsa.

Sekitar 200 guru dan tenaga kependidikan Advent dari berbagai wilayah di Nusa Tenggara menghadiri konvensi tersebut. Mereka tidak sekadar berkumpul untuk meningkatkan kemampuan profesional, tetapi juga untuk menyegarkan kembali semangat pelayanan dalam mendidik manusia seutuhnya.

Pembukaan konvensi turut dihadiri Associate Director Pendidikan Divisi Asia Pasifik Selatan, jajaran pimpinan Uni Indonesia Kawasan Tengah dan Daerah Nusa Tenggara, perwakilan Kapolres Sabu Raijua, Kepala Dinas Pendidikan Kabupaten Sabu Raijua, jajaran kepala perangkat daerah, camat, serta tokoh agama setempat.

Hengaddu Hawu: Sambutan Hangat dari Tanah Sabu

Dalam sambutannya, Wakil Bupati Thobias Uly menyampaikan rasa bangga dan sukacita atas kepercayaan yang diberikan kepada Kabupaten Sabu Raijua untuk menjadi tuan rumah kegiatan pendidikan tingkat regional tersebut.

Ia memperkenalkan Hengaddu Hawu, tradisi cium hidung masyarakat Sabu, sebagai simbol persaudaraan, kedekatan, dan penghormatan antarsesama. Tradisi ini menjadi gambaran bahwa perbedaan bukanlah penghalang untuk membangun kebersamaan, melainkan kekayaan yang mempererat hubungan antarmanusia.

Di tengah kondisi geografis kepulauan dan tantangan musim kemarau yang panjang, penyelenggaraan konvensi ini juga menjadi pengingat bahwa semangat membangun pendidikan tidak boleh padam oleh keterbatasan alam maupun jarak.

Dari tanah Sabu, para pendidik Advent membawa pesan bahwa masa depan generasi muda harus tetap menjadi perhatian bersama, sekalipun tantangan yang dihadapi setiap daerah berbeda-beda.

Satu Misi, Satu Hati, Satu Tujuan: Lebih dari Sekadar Tema

Wakil Bupati Thobias Uly memberikan apresiasi terhadap tema konvensi yang dinilainya memiliki makna mendalam bagi pembangunan sumber daya manusia.

Menurutnya, Satu Misi merupakan panggilan bersama untuk melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, kokoh dalam iman, dan memiliki integritas dalam kehidupan.

Satu Hati mengingatkan bahwa pendidikan tidak dapat berjalan sendiri. Dibutuhkan kerja sama yang erat antara sekolah, keluarga, gereja, masyarakat, dan pemerintah. Ketika semua pihak berjalan bersama, anak-anak memperoleh lingkungan yang lebih kuat untuk bertumbuh, belajar, dan menemukan arah hidupnya.

Sementara itu, Satu Tujuan menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui nilai rapor, prestasi akademik, atau gelar yang diraih. Pendidikan sejati juga terlihat dari karakter seseorang, kemampuannya mengasihi sesama, kejujurannya dalam bertindak, serta kesediaannya melayani dan memberikan dampak positif bagi lingkungan.

Pesan ini menjadi pengingat bahwa seorang anak tidak hanya perlu diajar agar mengetahui banyak hal, tetapi juga perlu dibimbing agar memahami nilai-nilai kehidupan dan menggunakannya untuk kebaikan.

Di Era AI, Guru Tetap Menjadi Pelita Kehidupan

Salah satu pesan paling kuat dalam sambutan Wakil Bupati adalah tentang posisi guru di tengah perkembangan teknologi digital dan kecerdasan buatan.

Ia menegaskan bahwa teknologi dapat membantu manusia memperoleh informasi dengan cepat, tetapi pendidikan tidak berhenti pada penyampaian informasi. Anak-anak tetap membutuhkan figur nyata yang menunjukkan bagaimana nilai-nilai kebaikan diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

“Teknologi dapat memberikan informasi, tetapi guru memberikan keteladanan. Teknologi dapat memberikan jawaban, tetapi guru mengajarkan kebijaksanaan. Teknologi dapat membantu manusia bekerja lebih cepat, tetapi guru mengajarkan manusia bagaimana hidup dengan benar,” tegas Thobias Uly.

Pernyataan tersebut menempatkan guru bukan sekadar sebagai penyampai pengetahuan, melainkan sebagai teladan yang perkataan dan tindakannya dapat membekas dalam kehidupan peserta didik.

Sebab, mungkin ada pelajaran yang terlupakan setelah ujian berakhir. Namun, kejujuran yang dicontohkan seorang guru, kepedulian yang ditunjukkannya, kesabaran ketika menghadapi kesalahan, dan iman yang diwujudkannya melalui tindakan dapat menjadi kenangan sekaligus pedoman hidup bagi seorang anak.

Di sinilah pendidikan berkarakter dan beriman menemukan maknanya. Guru tidak hanya membantu siswa mempersiapkan masa depan, tetapi juga menolong mereka menjadi manusia yang memiliki prinsip, hati nurani, dan tanggung jawab.

Sarai Pintar dan Sarai Berprestasi: Pendidikan sebagai Fondasi Masa Depan

Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua menempatkan pendidikan sebagai salah satu fondasi penting pembangunan daerah. Komitmen ini sejalan dengan program unggulan Sarai Pintar dan Sarai Berprestasi.

Wakil Bupati menyampaikan apresiasi kepada Gereja Masehi Advent Hari Ketujuh (GMAHK) dan seluruh panitia atas kontribusi mereka dalam mendukung kemajuan pendidikan dan pembentukan karakter generasi muda.

Kolaborasi antara pemerintah dan lembaga pendidikan keagamaan menjadi penting karena pembangunan manusia tidak hanya membutuhkan kecerdasan, tetapi juga nilai moral, spiritualitas, kedisiplinan, dan kepedulian sosial.

Pendidikan yang bermutu akan semakin bermakna ketika ilmu pengetahuan berjalan seiring dengan karakter yang baik. Dengan demikian, generasi yang dibentuk bukan hanya generasi yang mampu bersaing, tetapi juga generasi yang dapat dipercaya, menghargai sesama, dan bersedia mengambil bagian dalam membangun masyarakat.

Bukan Sekadar Seremoni, tetapi Gerakan Perubahan

Menutup sambutannya, Thobias Uly berpesan agar konvensi ini tidak berhenti sebagai agenda seremonial. Ia berharap pertemuan tersebut menghasilkan gagasan baru, langkah konkret, dan komitmen pelayanan yang dapat diterapkan oleh setiap peserta ketika kembali ke daerah masing-masing.

Harapan ini sekaligus menjadi tantangan bagi para guru dan tenaga kependidikan: bagaimana menjadikan setiap ruang kelas sebagai tempat bertumbuhnya karakter, setiap proses pembelajaran sebagai kesempatan menanamkan nilai kehidupan, dan setiap interaksi dengan siswa sebagai peluang untuk memberikan teladan.

Konvensi ini diharapkan tidak hanya memperkaya wawasan para pendidik, tetapi juga memperbarui hati mereka dalam menjalankan panggilan pendidikan.

Sebab, di balik setiap anak yang datang ke sekolah, ada masa depan yang sedang dibentuk. Ada potensi yang menunggu dikembangkan, ada karakter yang perlu dituntun, dan ada kehidupan yang membutuhkan bimbingan penuh kasih.

Dari Menia, Sabu Raijua, sebuah pesan diteguhkan: pendidikan yang sejati bukan hanya tentang seberapa banyak pengetahuan yang diberikan, melainkan tentang manusia seperti apa yang dibentuk melalui proses pendidikan itu.

Dengan semangat Satu Misi, Satu Hati, Satu Tujuan, Konvensi Guru dan Staf Daerah Nusa Tenggara ke-V diharapkan menjadi titik tolak bagi lahirnya pendidik yang semakin profesional, berkarakter, dan beriman—pendidik yang tidak hanya mengajar untuk hari ini, tetapi juga mempersiapkan generasi bagi masa depan dan kekekalan.

Karena pada akhirnya, keberhasilan seorang guru tidak hanya terlihat dari apa yang dikuasai muridnya, tetapi juga dari nilai-nilai kebaikan yang terus hidup dalam diri mereka, bahkan setelah mereka meninggalkan ruang kelas.

Satu Misi, Satu Hati, Satu Tujuan: Pendidikan Advent untuk Kekekalan.”(*/Red/Dk

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *