Jakarta||mediakomkmt- Suasana penuh semangat dan kekhidmatan mewarnai rangkaian Advisory Pelayanan Pemuda Advent Indonesia dan Timor-Leste ketika Koordinator Pathfinder Divisi Asia-Pasifik Selatan (Southern Asia-Pacific Division/SSD), Pendeta Anukul Ritchil, menyampaikan renungan inspiratif di hadapan para direktur dan pemimpin pelayanan pemuda dari berbagai wilayah Indonesia dan Timor-Leste, Selasa (27/07/2026).
Mengawali penyampaiannya, Pendeta Anukul mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya dapat berbicara di hadapan para pemimpin yang telah mengabdikan diri dalam pelayanan kepada generasi muda.
“Saya bangga karena dapat berbicara di hadapan pemimpin-pemimpin hebat saat ini. Kita tidak perlu takut, karena Tuhan selalu bersama kita,” ungkapnya.
Dalam renungannya, beliau menegaskan bahwa keberhasilan pelayanan tidak ditentukan oleh besarnya dana atau fasilitas yang dimiliki, melainkan oleh kerendahan hati dan kesetiaan kepada Tuhan. Mengutip kisah Yesus memberi makan lima ribu orang, beliau mengingatkan bahwa Tuhan sanggup melakukan perkara besar melalui persembahan yang sederhana.
“Berapa roti dan berapa ekor ikan yang dimiliki? Walaupun sumber daya kita terbatas, Tuhan dapat memakainya untuk memberkati banyak orang apabila kita melayani dengan rendah hati,” tuturnya.
Pendeta Anukul kemudian mengajak seluruh peserta merenungkan kehidupan Yosua sebagai teladan kepemimpinan rohani. Menurutnya, Yosua pada awalnya merasa takut ketika harus melanjutkan kepemimpinan Musa. Ia menyaksikan sendiri berbagai kesulitan yang dihadapi Musa dalam memimpin bangsa Israel. Namun, di tengah ketakutan itu, Yosua memilih datang kepada Tuhan untuk mencari petunjuk.
Beliau mengingatkan kisah penaklukan kota Yerikho dalam Yosua pasal 6, ketika bangsa Israel menghadapi tembok yang begitu tinggi dan tampaknya mustahil ditembus. Secara manusia, kemenangan itu tidak mungkin diraih. Namun, Yosua tidak mengandalkan strategi manusia, melainkan mencari kehendak Tuhan melalui doa.
“Yosua bertanya kepada Tuhan, ‘Apa yang harus saya lakukan?’ Dan Tuhan memberikan instruksi yang sederhana. Bangsa Israel diminta berjalan mengelilingi kota dengan penuh ketaatan, bukan mengandalkan kekuatan senjata. Ketika mereka taat, Tuhan sendiri yang memberikan kemenangan,” jelasnya.
Beliau menegaskan bahwa seorang pemimpin rohani harus memiliki kehidupan yang berakar pada firman Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Mazmur pasal 1. Saat menghadapi persoalan yang berat, seorang pemimpin perlu terlebih dahulu datang kepada Tuhan sebelum mencari solusi dari manusia.
“Pemimpin yang terhormat, marilah kita menjadi pemimpin yang setia. Sebelum meminta petunjuk dari orang lain, marilah kita datang kepada Tuhan. Tuhan akan memberikan instruksi yang sederhana tetapi membawa kemenangan,” pesannya.
Pendeta Anukul juga mengingatkan bahwa para peserta adalah pemimpin yang dipercayakan untuk membina generasi muda. Oleh sebab itu, kehidupan para pemimpin akan selalu menjadi teladan yang diperhatikan oleh orang-orang muda.
“Terima kasih karena telah mengambil tanggung jawab yang besar untuk melayani orang-orang muda. Ingatlah, banyak orang sedang melihat kehidupan kita. Maju terus dan jadilah seperti Yosua, seorang pemimpin yang setia kepada Tuhan, meskipun dunia memiliki cara kepemimpinannya sendiri,” katanya.
Menutup renungannya, Pendeta Anukul menyampaikan rasa syukur dapat bersekutu bersama seluruh peserta Advisory.
“Saya sangat diberkati dapat berada bersama kalian pada saat ini,” ungkapnya.
Sebagai penutup acara, Direktur Pelayanan Pemuda Advent Divisi Asia-Pasifik Selatan (SSD) menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta atas komitmen, kebersamaan, dan semangat pelayanan yang ditunjukkan selama pelaksanaan Advisory Pelayanan Pemuda Advent Indonesia dan Timor-Leste. Acara kemudian diakhiri dengan doa berkat bagi seluruh peserta, memohon penyertaan Tuhan agar setiap pemimpin terus diperlengkapi menjadi alat-Nya dalam membimbing generasi muda menuju kehidupan yang setia kepada Kristus.(*Dk
Jakarta, 27 Juli 2026 – Suasana penuh semangat dan kekhidmatan mewarnai rangkaian Advisory Pelayanan Pemuda Advent Indonesia dan Timor-Leste ketika Koordinator Pathfinder Divisi Asia-Pasifik Selatan (Southern Asia-Pacific Division/SSD), Pendeta Anukul Ritchil, menyampaikan renungan inspiratif di hadapan para direktur dan pemimpin pelayanan pemuda dari berbagai wilayah Indonesia dan Timor-Leste.
Mengawali penyampaiannya, Pendeta Anukul mengungkapkan rasa syukur dan kebanggaannya dapat berbicara di hadapan para pemimpin yang telah mengabdikan diri dalam pelayanan kepada generasi muda.
“Saya bangga karena dapat berbicara di hadapan pemimpin-pemimpin hebat saat ini. Kita tidak perlu takut, karena Tuhan selalu bersama kita,” ungkapnya.
Dalam renungannya, beliau menegaskan bahwa keberhasilan pelayanan tidak ditentukan oleh besarnya dana atau fasilitas yang dimiliki, melainkan oleh kerendahan hati dan kesetiaan kepada Tuhan. Mengutip kisah Yesus memberi makan lima ribu orang, beliau mengingatkan bahwa Tuhan sanggup melakukan perkara besar melalui persembahan yang sederhana.
“Berapa roti dan berapa ekor ikan yang dimiliki? Walaupun sumber daya kita terbatas, Tuhan dapat memakainya untuk memberkati banyak orang apabila kita melayani dengan rendah hati,” tuturnya.
Pendeta Anukul kemudian mengajak seluruh peserta merenungkan kehidupan Yosua sebagai teladan kepemimpinan rohani. Menurutnya, Yosua pada awalnya merasa takut ketika harus melanjutkan kepemimpinan Musa. Ia menyaksikan sendiri berbagai kesulitan yang dihadapi Musa dalam memimpin bangsa Israel. Namun, di tengah ketakutan itu, Yosua memilih datang kepada Tuhan untuk mencari petunjuk.
Beliau mengingatkan kisah penaklukan kota Yerikho dalam Yosua pasal 6, ketika bangsa Israel menghadapi tembok yang begitu tinggi dan tampaknya mustahil ditembus. Secara manusia, kemenangan itu tidak mungkin diraih. Namun, Yosua tidak mengandalkan strategi manusia, melainkan mencari kehendak Tuhan melalui doa.
“Yosua bertanya kepada Tuhan, ‘Apa yang harus saya lakukan?’ Dan Tuhan memberikan instruksi yang sederhana. Bangsa Israel diminta berjalan mengelilingi kota dengan penuh ketaatan, bukan mengandalkan kekuatan senjata. Ketika mereka taat, Tuhan sendiri yang memberikan kemenangan,” jelasnya.
Beliau menegaskan bahwa seorang pemimpin rohani harus memiliki kehidupan yang berakar pada firman Tuhan, sebagaimana tertulis dalam Mazmur pasal 1. Saat menghadapi persoalan yang berat, seorang pemimpin perlu terlebih dahulu datang kepada Tuhan sebelum mencari solusi dari manusia.
“Pemimpin yang terhormat, marilah kita menjadi pemimpin yang setia. Sebelum meminta petunjuk dari orang lain, marilah kita datang kepada Tuhan. Tuhan akan memberikan instruksi yang sederhana tetapi membawa kemenangan,” pesannya.
Pendeta Anukul juga mengingatkan bahwa para peserta adalah pemimpin yang dipercayakan untuk membina generasi muda. Oleh sebab itu, kehidupan para pemimpin akan selalu menjadi teladan yang diperhatikan oleh orang-orang muda.
“Terima kasih karena telah mengambil tanggung jawab yang besar untuk melayani orang-orang muda. Ingatlah, banyak orang sedang melihat kehidupan kita. Maju terus dan jadilah seperti Yosua, seorang pemimpin yang setia kepada Tuhan, meskipun dunia memiliki cara kepemimpinannya sendiri,” katanya.
Menutup renungannya, Pendeta Anukul menyampaikan rasa syukur dapat bersekutu bersama seluruh peserta Advisory.
“Saya sangat diberkati dapat berada bersama kalian pada saat ini,” ungkapnya.
Sebagai penutup acara, Direktur Pelayanan Pemuda Advent Divisi Asia-Pasifik Selatan (SSD) menyampaikan apresiasi dan ucapan terima kasih kepada seluruh peserta atas komitmen, kebersamaan, dan semangat pelayanan yang ditunjukkan selama pelaksanaan Advisory Pelayanan Pemuda Advent Indonesia dan Timor-Leste. Acara kemudian diakhiri dengan doa berkat bagi seluruh peserta, memohon penyertaan Tuhan agar setiap pemimpin terus diperlengkapi menjadi alat-Nya dalam membimbing generasi muda menuju kehidupan yang setia kepada Kristus.(*Dk












