Sabu Raijua||mediakomkmt — Di tengah keterbatasan akses layanan kesehatan di wilayah kepulauan, secercah harapan terus hadir bagi masyarakat Kabupaten Sabu Raijua. Selama lima tahun berturut-turut, Tim Rumah Sakit Advent Bandung (RSAB) konsisten mengabdi, menghadirkan pelayanan kesehatan dan rohani yang menyentuh hingga ke pelosok kecamatan.
Pada Senin (20/4/2026), Wakil Bupati Sabu Raijua, Ir. Thobias Uly, M.Si, menerima langsung kunjungan tim RSAB di ruang kerjanya. Pertemuan tersebut bukan sekadar formalitas, melainkan momen penuh makna: silaturahmi, evaluasi, sekaligus ungkapan terima kasih atas dedikasi yang telah dirasakan nyata oleh masyarakat.
Selama kurang lebih satu dekade setengah perjalanan pelayanan—khususnya lima tahun terakhir secara berkelanjutan—tim RSAB telah menjangkau seluruh kecamatan, termasuk wilayah terpencil seperti Kecamatan Raijua. Dengan menghadirkan dokter-dokter spesialis, pelayanan ini menjadi jawaban atas kebutuhan dasar masyarakat yang selama ini sulit dijangkau fasilitas medis memadai.
Namun, lebih dari sekadar pengobatan, temuan tim RSAB mengungkap realitas yang lebih dalam. Sebagian besar penyakit yang diderita masyarakat ternyata berkaitan erat dengan pola hidup. Fakta ini mendorong pendekatan yang lebih holistik—menggabungkan edukasi kesehatan, pembinaan rohani, hingga penyediaan akses air bersih.
“Misi ini bukan sekadar program, tetapi panggilan pelayanan yang kami teruskan dari para pendahulu. Kami ingin hadir bukan hanya menyembuhkan, tetapi juga membangun kehidupan yang lebih baik,” ungkap perwakilan tim RSAB.
Komitmen tersebut juga diwujudkan melalui pembangunan gereja yang kini telah dapat digunakan masyarakat untuk beribadah, meskipun belum sepenuhnya rampung. Kehadiran fasilitas ini menjadi simbol bahwa pelayanan tidak hanya menyentuh tubuh, tetapi juga jiwa.
Apresiasi dan Harapan Pemerintah Daerah
Wakil Bupati Thobias Uly menyampaikan rasa syukur dan apresiasi yang mendalam atas kontribusi nyata RSAB.
“Di tengah segala keterbatasan yang kami hadapi, kehadiran tim RSAB menjadi berkat besar bagi masyarakat kami. Ini bukan hanya pelayanan kesehatan, tetapi juga penguatan iman dan harapan,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa Pemerintah Kabupaten Sabu Raijua akan terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk lembaga keagamaan dan sosial, demi mempercepat pembangunan daerah.
Meski dihadapkan pada tantangan pengurangan dana transfer dari pusat, pemerintah daerah tetap berkomitmen mendukung setiap inisiatif yang membawa manfaat langsung bagi masyarakat.
Menggerakkan Ekonomi dan Lingkungan
Tidak berhenti pada sektor kesehatan, kolaborasi ini juga diarahkan pada pemberdayaan ekonomi lokal. Potensi unggulan seperti mangga udang dan sorgum mulai dilirik sebagai kekuatan ekonomi keluarga yang dapat dikembangkan secara berkelanjutan.
Selain itu, Pemerintah Daerah tengah mendorong pemanfaatan Gula Sabu sebagai alternatif sehat sekaligus peningkat nilai ekonomi bagi petani tuak. Pohon tuak bahkan disebut sebagai “pohon kehidupan” bagi masyarakat setempat.
Dalam semangat keberlanjutan, Wakil Bupati juga memperkenalkan program “Satu Orang Satu Pohon” sebagai langkah konkret menghadapi tantangan perubahan iklim dan musim kemarau. Bantuan bibit pohon pun akan diberikan untuk ditanam di area gereja yang dibangun oleh tim RSAB.
Kolaborasi yang Menghidupkan Harapan
Pertemuan yang berlangsung hangat itu ditutup dengan doa bersama—sebuah simbol persatuan antara pemerintah, tenaga medis, dan masyarakat dalam membangun masa depan Sabu Raijua.
Kisah lima tahun pelayanan ini menjadi bukti bahwa perubahan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Ketika kepedulian, kolaborasi, dan ketulusan bersatu, bahkan wilayah terpencil pun dapat merasakan dampak nyata.
Di Sabu Raijua, harapan itu tidak lagi sekadar wacana—ia sedang tumbuh, hidup, dan terus diperjuangkan.(*Dk
LIMA TAHUN MENGABDI DI SABU RAIJUA: KOLABORASI RS ADVENT BANDUNG DAN PEMDA HADIRKAN HARAPAN BARU













