Mediakom KMT
Selamat Datang di mediakomkmt, Media Terupdate, Terpercaya dan Independen
Agama  

Di sanakah anda ketika Yesus disalibkan?

Oleh               : Pdt. D. Kana Djo, S.Ag, M.Pd

Sebuah peristiwa yang terjadi di zaman pemerintahan Tsar Nicholas dari Rusia, di mana seorang perwira benar-benar bingung karena ia mempunyai hutang yang menumpuk. Sambil duduk termenung di atas tempat tidurnya pada suatu malam, kemudian ia mengambil secarik kertas dan menuliskan daftar hutangnya. Setelah berulang kali melihat daftar itu, akhirnya dalam keadaan sangat tertekan, ia menulis di bawah daftar itu, “Siapakah yang sanggup membayar hutang sebanyak ini?” Kemudian ia tertidur. Rupanya pada malam itu Tsar Nicholas menyamar untuk memeriksa para prajuritnya di barak tersebut. Ia melihat sang perwira yang tertidur di samping daftar hutangnya dengan pertanyaan, “Siapakah yang sanggup membayar hutang sebanyak ini?”  Tsar Nicholas kemudian menuliskan namanya: “Nicholas”. Ketika perwira itu terbangun di pagi hari, ia heran melihat tulisan di kertas itu dan bertanya-tanya, siapakah yang berani menuliskan nama Nicholas. Akhirnya keragu-raguan itu hilang karena jam 10 pagi Tsar Nicholas mengirimkan uang tunai untuk membayar hutang perwiranya itu. Saudara bisa bayangkan bagaimana gembiranya perwira itu. Dan sejak saat itu sang perwira menyerahkan seluruh jiwa raganya untuk sang kaisar.

Saudara, dosa merupakan hutang yang sangat besar bagi setiap manusia yang harus dilunasinya.  Roma 3:23 mengatakan – “Karena semua orang telah berbuat dosa dan kehilangan kemuliaan Allah.” Siapa yang dapat membayar hutang tersebut? Tidak lain hanyalah Yesus. Yesus telah membayar semuanya. Hanya kepada-Nya kita berhutang. Dosa telah meninggalkan noda merah tetapi Dia telah membasuhnya menjadi putih seperti salju.

Salib, di zaman Romawi merupakan lambang yang memalukan, namun demikian salib tersebut telah menjadi lambang pengharapan dari berjuta-juta umat manusia. Salib ini dapat dibandingkan dengan “regu tembak” yang kita kenal sebagai lambang kematian untuk penjahat-penjahat kriminal kelas kakap di Indonesia dan kita ketahui bahwa setiap penjahat yang dieksekusi melalui regu tersebut akan tamat riwayatnya untuk selama-lamanya. Sebaliknya Yesus Kristus telah melalui “kayu salib“ telah diangkat selama-lamanya. Yang membuat segala sesuatu berbeda adalah Dia yang ditempatkan di atas kayu salib tersebut.  “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal itu supaya barangsiapa yang percaya kepada-Nya tidak binasa melainkan beroleh hidup yang kekal”. Yohanes 3:16.

Para nabi telah melihat jauh ke depan dengan perasaan yang bercampur baur mengenai Golgota, suatu kejadian yang luar biasa dan sangat memilukan, sebagaimana dinyatakan oleh nabi Yesaya dalam Yesaya 53:4-6 – “Tetapi sesungguhnya penyakit kitalah yang ditanggung-Nya dan kesengsaraan kitalah yang dipikul-Nya, pada hal kita mengira Dia kena tulah, dipukul dan ditindas Allah. Tetapi Dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, Dia diremukkan oleh karena kejahatan kita, ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepada-Nya dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh. Kita sekalian sesat seperti domba, masing-masing kita mengambil jalannya sendiri, tetapi Tuhan telah menimpakan kepada-Nya kejahatan kita sekalian”.

Saudara, segala sesuatu yang dinubuatkan Perjanjian Lama telah menjadi kenyataan di Perjanjian Baru. Kristus telah mati untuk dosa kita semua. Di dalam Matius 27:50 – “Yesus berseru pula dengan suara nyaring lalu menyerahkan nyawa-Nya”. Kemudian Paulus menulis: “Karena waktu kita masih lemah, Kristus telah mati untuk kita orang-orang durhaka pada waktu yang ditentukan oleh Allah. Sebab tidak mudah orang mau mati untuk orang yang benar – tetapi mungkin untuk orang yang baik dan orang yang berani mati – Akan tetapi Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa”.  Sebuah sajak melukiskan kematian Yesus sebagai berikut:

Matahari menjadi gelap terlindung kabut misterius

Rasa berkabung menjadi dingin dan kaku

Salib membayang di atas bukit gersang

Di sanalah tergantung Juruselamatku

 

Saudara, Memang di sanalah, di Golgota Kristus telah mati untuk dosa-dosa kita semua. Dia yang tidak pernah berdosa harus menanggung dosa seluruh umat manusia. Begitu besar beban yang dipikul-Nya yang hampir menghancurkan-Nya di Taman Getsemani. Lukas 22:44 – “Ia sangat ketakutan dan makin bersunguh-sungguh berdoa. Peluh-Nya seperti titik-titik darah yang menetes ke tanah”. Kita dapat bayangkan, perasaan yang begitu tertekan sehingga keringat yang keluar adalah darah. Pernahkah kita berkeringat karena perasaan tertekan dan keringat tersebut berubah menjadi tetesan darah? Kejadian dilukiskan Lukas bukanlah bersifat lambang, symbol atau halusinasi yang dialami Yesus tetapi hal itu terjadi karena Yesus menderita suatu tekanan batin yang benar-benar demikian beratnya. Dan di saat itulah dimulainya suatu perjalanan tragis yang panjang yang tidak pernah dialami manusia di atas dunia ini sebelumnya. Yesus menyerahkan diri-Nya sebagai manusia terhina, merasakan tindakan-tindakan yang benar-benar tidak manusiawi, kemudian membiarkan perasaan dan hatinya yang amat peka itu dirobek-robek dengan berbagai tuduhan palsu. Yesus yang adalah Allah dipanggil dengan kata-kata iblis.

 

Yesus yang menjadi kawan dari semua orang berdosa medengar sebutan bagi-Nya sebagai musuh dari Kaisar. Yesus telah mati untuk menebus kita, telah merupakan suatu keuntungan rohani yang tak ternilai harganya yang sangat tepat digambarkan oleh Rasul Paulus di dalam Kolose 1:13-14 – “Ia telah melepaskan kita dari kuasa kegelapan dan memindahkan kita ke dalam kerajaan Anak-Nya yang kekasih,  di dalam Dia kita menerima pengampunan dosa”. Kematian Yesus memungkinkan manusia mengadakan rekonsiliasi dengan Allah sebagaimana dikatakan selanjutnya di ayat 21-22, “Juga kamu yang dahulu hidup jauh dari Allah dan yang memusuhi-Nya dalam hati dan pikiran seperti yang nyata dari perbuatanmu yang jahat, sekarang diperdamaikan-Nya di dalam tubuh jasmani Kristus oleh kematian-Nya, untuk menempatkan kamu kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya”.

 

Kematian Kristus di kayu salib menyebabkan kita manusia tidak perlu harus mati di api neraka. “Tuhan tidak lalai menepati janji-Nya, sekalipun ada orang yang menganggapnya sebagai kelalaian, tetapi Ia sabar terhadap kamu, karena Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat” dan “beroleh hidup yang kekal”. 2 Petrus 39; Yohanes 3:16.

 

Suatu fakta yang membesarkan hati di mana kita telah mempelajari dan mengetahui bahwa siapa yang menerima Yesus sebagai Juruselamatnya, siapa yang menerima pengorbanan Yesus sebagai persembahan untuk menebus dosanya, siapa yang menerima darah Yesus, siapa yang mau menerima pemberian atau hadiah dari kehidupan Yesus sebagai penggganti nyawanya, maka ia tidak perlu kuatir tentang kematian yang kedua, kematian di api neraka. Karena mereka tidak akan binasa, sebab Kristus telah mati untuk mereka.

 

Kematian Kristus di kayu salib merupakan suatu demonstrasi dari pada kecintaan-Nya kepada kita yang berdosa. Kristus menyadari bahwa aka nada suatu saat di mana kehidupan menjadi suatu beban yang begitu beraty bagi anak-anak-Nya, untuk itu mereka membutuhkan seorang teman yang sejati yang dapat memberikan pertolongan di dalam cinta kasih itu yaitu Yesus Kristus. Oleh karena itu Ia menyerahkan diri-Nya disalibkan di bukit Golgota sebagai suatu peristiwa yang dapat mengingatkan kita berulang-ulang tentang kasih-Nya kepada dunia.

 

Ketika Presiden Abraham Lincoln dari Amerika dimakamkan, begitu banyak rakyat yang sedang menyaksikan arak-arakan yang mengiringi peti jenazah menuju pekuburan di Illinois, di antara rakyat yang menyaksikan arak-arakan terdengar suatu percakapan antara seorang ibu yang berkulit hitam dengan anaknya, sambil memegang tangan anaknya ia mengatakan: “Lihatlah sepuas-puasnya manisku, orang itu telah mati untukmu”.

 

Suatu peristiwa yang menjamah hati di dalam sejarah manusia telah diukirkan di dalam kitab Kejadian pasal 3. Setelah Adam dan Hawa bedosa terhadap Allah, kemudian mereka lari menyembunyikan diri. Tetapi Alkitab mengatakan, “Ketika mereka mendengar bunyi langkah Tuhan Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap Tuhan Allah di antara pohon-pohon dalam taman. Tetapi Tuhan Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?” Kejadian 3:8-9.

 

Mari kita renungkan sejenak kata-kata dari Alkitab tadi. Sang Pencipta sedang mencari makhluk ciptaan-Nya yang berbuat kesalahan. Mungkin kita berpikir bahwa Adamlah yang mencari Tuhan karena dialah yang bersalah terhadap Tuhan. Tetapi ternyata tidak demikian, manusia yang bersalah dan lari kemudian Tuhan yang mencari manusia yang berdosa dan lari dari hadapan-Nya itu. Namun oleh karena kasih-Nya Allah memanggil manusia: “Adam di manakah engkau?” Apa lagi yang dibutuhkan untuk membuktikan kasih Allah. Ketika manusia berdosa, Allah datang untuk mencari mereka dan untuk selama 33 tahun Kristus hidup di dalam dunia ini untuk manusia yang berdosa. Bagaimana pun kegelapan yang telah meliputi manusia, tidak ada suatu hal yang dpat meragukan bagaimana Allah yang maha Pencipta benar-benar mengasihi dan memperhatikan makhluk ciptaan-Nya itu.

 

Seorang anak laki-laki yang kira-kira berumur 12 tahun tetapi sudah menjadi penanggung jawab bagi ibunya yang cacat. Karena itu setiap hari dia harus menjual Koran. Suatu saat ia menyadari bahwa sebentar lagi ibunya berulang tahun, untuk itu ia telah menyisihkan dari hasil penjualan korannya agar dapat membelikan ibunya itu sesuatu. Di saat ibunya berulang tahun, ia mendatangi sebuah toko kembang, kemudian memilih rangkaian bunga yang cantik dan menyerahkan sejumlah uang kepada pemilik toko kembang tersebut. Wanita di toko kembang itu terperanjat melihat jumlah uang yang dipegang oleh anak yang berumur 12 tahun itu dan bertanya, “Untuk siapa kembang yang anda beli itu?” “Oh saya membeli kembang untuk ibu saya yang sedang berulang tahun!” Jawab anak itu. “Apakah uangnya cukup?” Tanya anak itu.  Rupanya wanita penjaga toko itu  sangat terharu melihat apa yang dilakukan oleh anak yang berumur 12 tahun itu.

 

Dengan mata berkaca-kaca ia mengatakan kepada anak tersebut, “Ya uang itu lebih dari cukup. Engkau boleh mengambil uang itu untuk hadiah ulang tahun ibumu dan bawalah kepadanya.” Segera anak itu keluar dari toko sambil berlari ke jalan tanpa melihat ke kanan dan ke kiri. Tiba-tiba terdengar sebuah mobil mengerem mendadak dan terdengar bunyi tabrakan dan tubuh anak itu sudah terhempas di depan bamper mobil. Darah mengucur dari kepala, namun anak itu masih mencoba mengumpulkan sisa-sisa kembang yang berserakan. Seorang polisi datang dan mengangkat anak yang sekarat itu. Sebelum menutup mata untuk yang terakhir kali anak tersebut masih sempat mengatakan kepada bapak polisi, “Pak, tolong sampaikan kembang ini untuk mama, hari ini hari ulang tahunnya dan saya tidak mau ia mengira bahwa tidak ada orang yang mengingatnya. Berikanlah kepadanya dan katakan bahwa saya mencintainya”. Kemudian anak itu menghembuskan napasnya yang terakhir.

 

Saudara, di kayu salib, Yesus telah tergantung bermandikan darah-Nya sendiri bagaikan memegang karangan bunga dari kasih Allah kepada manusia. Yesus ingin agar kita mengerti bahwa ada seorang yang tetap mengingat kita dan orang itu adalah Tuhan sendiri. Kematian Kristus di kayu salib merupakan suatu jawaban terhadap tuntutan hukum Allah. Manusia telah melangggar hukum Allah tersebut dan menjadi berdosa. Dengan menggantikan kedudukan manusia di depan pengadilan dan menjalani eksekusi sebagai pelanggar hukum, Kristus memberikan penjelasan kepada umat manusia bahwa hukum-Nya mempunyai ikatan yang kekal. “Percayalah kepada Tuhan Yesus Kristus dan engkau akan selamat, engkau dan seisi rumahmu.”

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *