Mediakom KMT
Selamat Datang di mediakomkmt, Media Terupdate, Terpercaya dan Independen
Agama  

Pola Mengajar Yesus dalam Matius 5, 6, dan 7

Eden, di mana Adam dan Hawa sebagai peserta didik-Nya dan Allah sebagai Guru-Nya

Dina Kristiani menyatakan bahwa salah satu metode pembelajaran yang digunakan Yesus adalah Metode Ceramah. Tuhan Yesus sering memakai metode ceramah atau metode khotbah,dalam menjelaskan ajaran-Nya kepada para murid-Nya maupun saat mengajarorang banyak. Contoh: khotbah Tuhan Yesus di atas bukit dalam Injil Matius 5-7.Matius 24-25 merupakan khotbah Tuhan Yesus tentang akhir jaman. TuhanYesus sebagai Guru Agung justru lebih dahulu menerapkan prinsip-prinsipdalam memakai metode ceramah, sehingga hasilnya sangat memuaskan.[1]

Dilanjutkan dengan Dirk Roy Kolibu yang menyatakan bahwa, tugas mengajar sangat penting dan berharga karena dapat membimbing orang mengenal diri sendiri dan mengenal Tuhan. Alasan apa seorang pendidik Kristen melakukan tugas mengajar? Pertama, Allah adalah pengajar utama dalam kehidupan ini.Alkitab memberikan keterangan perbuatan Allah mengajar dimulai sejak di dalam Taman

[1]Dina Kristiani,Jurnal “Implementasi Model Teaching Learning Tuhan Yesus Menurut Injil Matius Terhadap Guru-Guru Pendidikan Agama Kristen Di Kota Surakarta” tahun 2018, hal. 446.

Eden, di mana Adam dan Hawa sebagai peserta didik-Nya. Kedua, Tuhan Yesus adalah sang Guru Agung, disebutkan guru yang datang dari Allah (lih.Yoh. 3:2 bnd. juga dengan Yoh. 13:13). Dia disebut sebagai Rabi, artinya ”Guru” (lih. Mat. 26:25, 49; Mrk. 9:5; 11:21; Yoh. 1:38,39; 3:2; 4:31; 6:25; 9:2; 11:8). Ini tentu suatu gelar kehormatan,yang menyatakan betapa Ia disegani dan dikagumi oleh orang sebangsa-Nya selaku seorang pengajar yang mahir dalam segala soalilmu Ketuhanan. Sebab Ia mengajar  mereka sebagai orang yang berkuasa,  tidak  seperti  ahli-ahli  Taurat  yang   biasa  mengajar  mereka (Mat.7:29). Ketiga, Tuhan Yesus mendelegasikan kepada murid-murid-Nya untuk pergi mengajarkan tentang apa yang telah didengar dan dilihat mereka dari Yesus (Lihat Markus 6:30 bnd. Matius 28:20).

Di dalam 5:1, 2 Matius menulis: “Ketika Yesus melihat orang banyak itu, naiklah Ia ke atas bukit dan setelah Ia duduk datanglah murid-muridNya kepadaNya. Maka Yesuspun mulai berbicara dan mengajar mereka.” Di dalam kalimat pendahuluan itu terdapat tiga pokok yang menunjukkan pentingnya Khotbah di Bukit, pertama Yesus mulai mengajar setelah Ia duduk, hal itu menunjukkan bahwa pengajaran Yesus adalah sangat penting dan bersifat resmi. Kedua Yesus mulai berbicara dan mengajar mereka. Ungkapan “Yesus mulai berbicara” bukanlah suatu uangkapan biasa saja, melainkan menunjukkan ungkapan yang penuh wibawa, serius, dan khidmat, ungkapan itu dipakai untuk seseorang yang membuka isi hatinya dengan tulus ikhlas, dan melahirkan atau mengutarakan segala sesuatu yang ada di dalam pikirannya. Ketiga Yesus mulai berbicara dan mengajar mereka.[2] Di dalam Perjanjian Baru kata mengajar memiliki pengertian yang spesifik yaitu: Didásko. Dalam Theological Dictionary kata “didasko” menunjuk pada “kegiatan mengajar” dan belajar dalam arti yang luas, yaitu membagikan atau mengimpartasikan pengetahuan teoritis dan praktis dengan tujuan untuk mengembangkan segala kemungkinan dan kemampuan dari seorang murid.Kata  Didáskein menurut Injil-Injil Sinoptik, adalah salah satu “fungsi utama” dari Yesus (lih.Mat. 4:23; 9:35; 11:1).[3]

Keadaan yang mendahului khotbah itu dijelaskan terlebih dahulu, kemudian diikuti dengan khobah itu sendiri. Khotbah ini tidak bertujuan untuk mengisi kepala kita dengan gagasan-gagasan semata, melainkan untuk membimbing dan mengatur perilaku kita. Ia menawarkan kebahagiaan sebagai tujuan khotbah-Nya dan menggambarkan ciri-ciri orang yang layak menerima kebahagiaan itu (yang sangat berbeda dengan gagasan-gagasan orang dunia yang sia-sia), dalam bentuk delapan ucapan bahagia yang isinya bisa dikatakan sangat bertolak belakang dengan kenyataan yang ada (ay 3-12), Ia menetapkan kewajiban sebagai cara yang harus dilakukan, dan memberi kita aturan untuk menjalankannya. Ia menuntun murid-murid-Nya untuk mengerti siapa mereka sebenarnya, dan untuk mengerti apa yang harus mereka lakukan –  mereka harus dikuasai oleh hukum moral.[4]

[1]Shanan jurnal pendidikan agama kristen http://ejournal.uki.ac.id/index.php/shan/article/download/1498/1189/ 02112020/12:37, hal. 144

[2]William Barclay, Pemahaman ALKITAB setiap hari, (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2017) Hal. 142-143

[3]Shanan jurnal pendidikan agama kristen http://ejournal.uki.ac.id/index.php/shan/article/download/1498/1189/ 02112020/12:37, hal. 143

[4]Matthew Henry, Tafsiran Matthew Henry Injil Matius 1-14 (Surabaya: Momentum, 2007), hal. 147-148

banner 325x300

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *